Sabtu, 04 Agustus 2012

Episode cerita rindu 2

Telaga kasih itu telah kering di hirup kemarau amarah
Aku berdiri diatas retaknya rindu yang hampir berkecai
Sejauh mata memandang hanya terbentang ketandusan jiwa seorang insan
Yang bernama aku

Menitik bulir bening dipipi nuraniku 
Mengalir terus hingga kedasar kalbu
Meresap dikerontangnya sanubari
Tak berbekas walau hanya sekilas lembab

Kembaraku pun menuju kenangan
Siluet bersamamu meliukkan perjalanan kita
Tersandung pada sebuah bongkah kesombongan yang egois
Akhirnya sosokmu membuangku dalam tangis

Masih ku berdiri di retaknya rindu ini
Ingin ku raup menjadi sehalus porselin
Lalu kocorakkan karya cinta yang disulami rindu purnama
Namun...
Hanya sebatas ingin hingga keajaiban menggamit datang
Karena kutahu, rindumu tak lagi bersenandung


Jakarta, 27 Maret 2010

Episode cerita rindu 1

Kulihat dirimu jelas sesosok tegap yang menanti di bawah kelabunya senja
Gelisahmu, gumammu, desahmu, hiasi sebentuk raut
Dengan keteduhan sepasang mata dan rahang yg kokoh
membuatku ingin mengusap lembut mengecup sayang, wajah tercintaku

Kuhampiri dirimu dengan harap dapat kusampaikan rindu yang melara ini
Anggun langkahku mendekatimu perlahan namun pasti
Kucipta senyuman terindah milikku kau hanya diam
Kurengkuh dirimu hangat kau masih membisu
Kukecup pipimu rindu kau tetap dingin
Dan kau pun berlalu sunyi dalam cekam keheningan

Setengah berlari kukejar hingga di sisi bayangmu
Sepi bergayut di bahumu tertawakan gelora di mataku
' Ada apa sayang?'
Kuraih lengan kokohmu yg biasa memelukku
Namun tak tersentuh tak terjangkau tak dapat kuraih

Kau semakin jauh, jauh
Hanya tinggal jejak langkah yang kutangisi tanpa nada
Akankah aku juga akan lebur bersama waktu
Seperti jejakmu di pasir pantai ini yang tersapu ombak
Telah sirnakah aku dari hatimu 

Bersama episode rinduku yang belum tersampaikan

Jakarta, 21 februari 2010

Jeritan Hati Yang Usang

Aku muak dengan mereka
Mereka yang bermuka muka di pentas dunia
Menutupi wajah beringas, sinis, mesum
Dengan topeng kebaikan, kecantikan
Ada senyum yang selalu terpamer
Sedangkan hati ingin membuncah, sarat kebencian

Dasar orang - orang munafik
Tiada letih dalam kamusnya, bersandiwara
Demi kepuasan nafsu yang bertakhta di singgasana jiwa
Demi diraja bermata menyala, bertanduk merah
Katanya..

Mereka menjual wajah lembut nan rupawan
Gemulai gerak dan alunan nada menggoda
Memanipulasi cerita kehidupan
Akhirnya menjadi bumerang tak terelakkan

Aku melihatmu ada di sana
Tak pasti apakah sebagai dalang, wayang
Atau hanya menonton dan berlalu pergi
Sedangkan aku terpaku, terpaksa menyaksikan 
Sandiwara yang berulang - ulang

Dengan bajuku yang hanya sehelai kain usang
Bertambalkan kisah dari negeri kejujuran
Beralas kaki ketegaran yang rentan

Namun begitu, aku harus tetap bertahan
Disini, di dunia kamuflase ini
Demi sebuah kebenaran yang tersimpan
Yang ku yakini akan menang



Jakarta, 17 februari 2010



KENAIFAN

Biarkan aku menangis, biarkan
Dengan begitu mungkin akan berkurang sedikit kesedihan yang tersimpan
juga mungkin akan terlerai sekelumit benci yang tersimpul
atau akan terhakis selapis rindu yang tertimbun
Dalam diri ini..

mengalirlah wahai airmata, ikutlah alurmu

ingin kuteriakkan pada cakrawala, pada bianglala, pada semesta
betapa aku sangat merindukan
ingin kutunggu detik bersua dengan-NYA
walau dengan ketakutan yang takkan hilang
disebabkan kenaifan dan kehinaan diri ini

betapa aku belajar mencintai-MU
dengan segenap kekuranganku
tapi tak seperti KAU mencintaiku

maafkanlah diri ini, maafkan jiwa ini
yang tak cukup kukuh membawa amanah
ku tak layak berada di sana
namun ku tak sanggup di menahan siksa
di sini aku bersimpuh memohon kasih-MU
agar dapat diri ini bertahan melalui azab
azab-MU hingga ke penghujungnya



Jakarta, 10 februari 2010

RASA YANG HILANG

Seiring waktu yang bergulir, dalam setiap jengkal rasa yang terpaut
pada sebongkah kisah tentangmu
ada yang kian memupus warnanya
kelihatan semakin samar, bias yang hadir di setiap sua

kembali kusulam ingatan yang hampir terlerai simpulnya
mencari sepercik tanda yang telah kulupa rasanya
menepikan semua egoku, tuk kembalikan..
apa yang seharusnya menjadi milikmu di hatiku

sungguh rentan ikatan yang kau tambatkan 
di dermaga hatiku yang kian usang
titiannya terlerai hanya dengan uluran waktu
yang semakin renta dimamah usia
haruskah aku terus memupuk akar cinta
yang telah lapuk dimakan anai anai waktu
sampai kapan aku terus menggapai hatimu
sedangkan tak pernah kau hulurkan sebuah isyarat
walau hanya sebatas gurat kerlingan kasih
salahkah bila akhirnya luput dari ingatanku, hati, bahkan mimpiku

'seonggok asa yang terbuang tanpa nama'



Jakarta, 10 februari 2010

KEKASIH

Mengenalmu, adalah anugrah terindah dalam hidupku
Menyayangimu, adalah hasrat terdalam hati ini
Mencintaimu, adalah penghargaan jiwaku padamu
Merindumu, adalah nikmat terbaik dari-NYA untukku


Semua gerikmu, bahasamu, senyummu, isyaratmu..
Sungguh pesona yang ku rindu seumur hidupku
Tak terangkai kata untuk jabarkan betapa,
Berharganya dirimu di mata dan hatiku


Seuntai doa dan harapku
hanya ingin kau bahagia, bahagia, dan bahagia
Agar selalu kutemui senyum di wajahmu
Wajah kekasih hati dan jiwaku




Jakarta, 29 Januar i2010

MENGERTILAH

Dalam diamku aku berkata
Masihkah aku yang menemani jiwamu? 
Dalam seduku aku berisyarat
Rinduku kah yang bergema di palung hatimu? 
Jangan hanya Diam
Beri aku tanda, agar aku tak lagi berharap dalam semu
Agar letihku tak beranjak pergi dariku
Agar tak usang penantianku padamu

Jakarta, 2 januari 2010