Minggu, 02 September 2012

sebentuk cinta untuk seroja white

Dear,
Dalam perjalananku memapah diri
Kutemui senyummu sejukkan bilur - bilurku yang setengah membiru ungu
Kudapatkan dekap mesra yg hangat dari jiwamu yang juga tak kalah sendu denganku

Sayang,
Walau sekejap kutatap seraut nyatamu yg bersanding dengan pangeran hatimu kala itu,
Juga bersama peri badung kita yang riuh dengan celotehnya,
Namun tak terkata, tak ternoktah, bahagia membahana

Sahabatku,
Takkan ada kata berpisah maupun selamat tinggal antara kita
Walau jarak dan waktu memisahkan raga yang kan semakin renta
Karena, ketulusan rasa melebihi apapun jua

Seroja,
Kini bertambah setahun lagi pengalamanmu dalam kembara
Kuatkan pancang - pancang jiwa senantiasa
Dunia luas membentang dengan sejuta pesona dan selaksa kebinalannya
Tugas'mu' lah menaklukkannya
Atau dirimu tenggelam didalamnya

Tak ada kidung untukmu, terlebih tart dan lilin seperti dalam cerpen - cerpen itu
Namun pasti sekalung doa dan harap kutitipkan padaNYA khusus untukmu
hanya untukmu 'Siti khadijah'
sahabatku tercinta

Tersenyumlah cantik,
Puisi sederhana ini ku guratkan dengan indah walau tak sempurna
Berbahagialah,
Sebab ada jiwa - jiwa yang kan senantiasa menatapmu dengan sayang

Happy birthday dear

19 Desember 2010

yg sllu menyayangi dn merindukanmu,

zee.

sajak pertemuan


Kujejakkan hati pada pantai bernuansa senja
bermandikan semburat magenta
mencari sesuatu yang tertunda dalam rasa,
pada larik - larik sketsa langit yang tak pernah biasa
menurutku

Terlihat tanpa sengaja
sebentuk awan yang menggumpal bercahaya
terkesima aku tanpa warna rupa
akan keunikannya yang bersahaja

Dan..
sayup kudengar seok langkah pengelana
lusuh dan renta yang terpaksa karena derita
kehilangan cinta yang dianggapnya telah sirna
bersama ketulusan yang dulu pernah ada

Gurat - gurat letih begitu kentara di sebentuk wajahnya
ah, betapa kuingin memeluknya
memberitahukan padanya, bahwa masih ada cahaya dibalik cahaya

Kugandeng lengannya
menariknya susuri bibir pantai
agar terpahami olehnya walau tanpa ku kata
bahwa ketulusan selalu ada
layaknya senja kepada cakrawala

Terjelajahi sang pengembara asa
padang hatiku yang menghijau sempurna
diraih, direngkuhnya dengan erat yang indah

Dan..
aku suka

jakarta, 17 desember 2010

diantara ornamen rasa dua jiwa


Tertimbun rasa atas segenggam ragu yang menestapa
Pada bingkai jiwa

Demikiankah teruji perjalanan dua hati
Agar bahagia menapak pasti dikemudian hari ?

Duhai dewa dewi cinta
Hembuskan nafasmu di tiap rongga cintanya
Kecup hangat di ranum hasratnya
Agar ia tetap yakin akan semua asa yang kami cipta

Dia, dia adalah cintaku
Kekasih jiwaku
Pangeran hatiku
Dermaga terakhirku

Sayang,
Bila hatimu masih ragu berbilang
Masuk ke hatiku
Disana, tidak kan kau temukan seliang anginpun, celah untuk nama lain selain namamu
Tiada setitik celahpun, selain setia ini untukmu

Berjanjilah,
Tetap bertahan bersama badai yang setia ada
Karena badai itu adalah aku, dirimu ; kita

jakarta 15 desember 2010

jelang pasca sebuah cerita

Ketika janji tak lagi diurutan yang utama
Berartikah lagi berbaris ucap
Atau bahkan selaksa susunan abjad

Reremah nelangsa yang berlapis kutimbun dalam kotak jingga yang mengabu
Berharap ada 'magic' yang dapat raibkan jejaknya

Akan padamkah senja tanpa magenta ?

Pada teduh hatimu ku berdiam
Harap akan kisah masa depan yang membintang
Pada teguh jiwamu ku menggantungkan asa
Tentang tulusnya rasa sepanjang usia
Pada hangat asmaramu kutitipkan hasrat
Akan pesona salsa yang memikat
Telah memadai kah ?

Ternyata,
Hingga satu dunia kubentang isinya
Tak pernah cukup untuk mengukur dua jiwa yang mencinta dengan setulus rasa

Jika kemudian ikrar melemah,
Terbayarkah oleh airmata yang men'jingga' ?
Karena itu, membaralah selalu...demi aku yang hampir membatu, bisu

jakarta 12 desember 2010

mengulum kebisuanmu


Mengecup pagi dalam sendu
Ucapkan salam dalam diam
Hening balut jiwa yang meriang
Terang namun tak benderang

Dingin,
Seonggok sepi tak mau pergi
Betah hiasi cakrawala hati
Gantungkan asa - asa yang kulihat hampir basi

Ingin melihat pelangi
Haruskah ku undang hujan,
Lagi ?

Jeruji hati ini
Penjarakan setia dengan pasti
Ketika ragu terisyaratkan pada bola mata yang sepi

Akankah sekecup bintang pada pipi malam membuat semburatnya terangi kota yang padam ?

Alam, jawablah tanyaku dalam diam
Isyaratkan bahwa aku adalah kalian
Agar rasaku abadi terukir di langit, walau suram

jakarta, 10 desember 2010

yang tertunda sepanjang penantian

Ku toleh,
Tak kudengar nada jemarimu
Lalu, hati memujuk rasa

Lagi - lagi
Menyeka tiap tetes yang luruh
Belum jua tiba
Lalu, rayu sabar pada jiwa
Agar tak nestapa

Selang - berselang
24 jam resah bertandang
Kelabu semakin pekat
Menggayut pada hasrat

Terlelap bersama isak
Terjaga oleh igau sebaris nama

Kau bernama cinta
Menggandeng tulus rasa
Berbalut setia pada jiwa
Teruji di tiap - tiap peristiwa

Sayang,
Jangan pernah lupa
Kerjap indah sepasang mata
Menantimu penuh cinta

jakarta, 10 desember 2010

autumn in my heart

Hati memburam
Oleh dingin yang mengembun
Pada serpih cermin rasaku

Ku lambai masa lalu
Ucapkan sesengguk sedu
Tak harap setapakpun kembali

Jangan menangis lara,
Dekaplah jiwa yang memucat abu
Berikan sekecup mesra mu
Di tiap bilur yang tertata, beku
Demi lengkung indah yang terpahat di bibirku

jakarta, 9 desember 2010