Minggu, 02 September 2012

mencoba berkata

Aku mengenalimu, menatapmu, hingga mengenalmu,
dengan hatiku
begitu indah, degan segala pernak pernik yg terkadang mengusik rasa

Aku adalah rapuh
perlu keringanan hatimu untuk bisa hinggap disana
juga keseimbangan jiwa agar tak mudah jatuh pada hempas resah

Mendung sangat ramah menyapaku
terlebih lagi sepi, sangat karib
belum lagi isak yang membalut sepiku
begitu dominan
ah, complicated kata orang - orang

Itulah aku,
aku yg mencintaimu
aku yg kau cintai
kata rembulan pada embun dini hari

jakarta, 26 juli 2010

entah..

Ku kutip kembali serpihan diri
yg kutinggalkan dilorong" tak bernama,
berharap masih bisa kurekat
agar sempurna sebuah hajat

Cahaya bola malam itu masih berada dibalik awan yg merimbun
seolah sipu akan kerlingku yg tak terjamu olehnya

Diriku hampir merepih,
oleh itu akan kupinjam sedikit kekuatan kelam
maka, biar saja ia tetap dibalik rerimbun awan
agar malam yg suram dapat perankan artinya
demi aku penggembala lara

Lihatlah,
entah apa yg ku eja
sepertinya aku sedang salah menata kata

jakarta, 22 juli 2010

yang terlewatkan

Sengaja mengutip remah peristiwa
lalu
ketika duduk di bebukit membaca awan dan peristiwa langit
sosok remaja aku begitu tenang
menyerahkan alam fikirnya pada alam

Beranjak mendewasakan diri seiring pikul yg harus tertanggung
hanya dapat menitipkan salam lewat angin kepada penjuru cakrawala,
untuk masa yg terlewatkan
dalam diam yang berbalam

Mungkinkah kini kutebus segala indah yg terlewatkan
agar tak ada penyesalan
sebagaimana bila aku terlupa menatap langit, suatu ketika dulu
selepas hujan ?

jakarta, 21 juli 2010

dalam selubung

Kulihat matahari senja berwarna oranye
kau bilang, kuning tua
tak sehatikah bila
penglihatan kita tak seirama
layaknya kuterima rasamu saat kau mengamanatkannya dulu

Kau menangis
akupun luruhkan bulir yg meratap
tak sepahamkah jika
kau inginkan sesuatu yg membuatku sakit

Akhirnya akupun bertanya
apakah yang dinamakan penerimaan, ketulusan, keikhlasan atas rasa
jika salah satu tak bisa menghargainya

haruskah ada yg mati rasa
antara kita ?
ah, sengaja atau tidak sengaja manusia memang penuh cerita dusta

jakarta, 20 juli 2010

redup hati

Mega kelabu menggayut diujung nestapa
adakah rinai kan tiba
atau hanya sekilas sayu yang ingin singgah mewarnai rasa

Ada penggalan duri tersisa pada hati yg menanah
sakit, seirama degup jiwa yg menurun kadar hidupnya

Menangislah airmataku,
ruahkan jadi anak" sungai maupun telaga
sejukkan mimpi" yg tertunda
naungi semua asa yg tergolek sepi
agar tak merapuh dn pergi

Mengalirlah dukaku,
iringi ayunan ratapan hati
sisakan sedikit perihnya sepi
untuk sadarkanku bahwa
masih ada rasa tertinggal dihati
kini.

jakarta, 17 juli 2010

kepulangan

Ada rindu meliuk manja diantara
tangis dan senyumku
disana, tersampaikan oleh debur ombak membahana

Terhidu aroma kasih, memeluk kepulanganku, memanjakan rinduku,
terlihat pada semburat magenta diantara laut dan tebing girijati

Asa mengecupku hangat, sadarkan bahwa dirimu nyata, senyata saat kuraup pasir yang terjamah diantara bebatuan menjulang

Sirna pedih yang menahun, oleh persembahan yang paripurna darimu

'GIRIJATI'
begitu kau menyebutnya
ya, bukit kepulangan kita
kado terindah 

jakarta, 15 juli 2010

di lembah malam (zee ft pandawa)

Pandawa :

ketika malam hunuskan senyap
keringat membulir di tepi tepi hati
yang terengah meniti jejakmu,
untunglah kau tinggalkan
seret panjang di setapak
dari juntai baju kurungmu,
rehatlah sejenak agar
dapat kubingkiskan salutku,
ini ada mukena dan
sajadah untukmu,
terimalah dendam tertahanku
atas tunjaman kasihmu,
warna yang mempelangikan
darah dan sukmaku


Senja:

Cintamu padaku selaksa bimasakti
Namun takkan melebihi cintamu padaNya
Indah dan menawan

Genggamanmu menarik ruhku melewati cahaya surga
Membasuh seluruh nista dan keluhku
Aku tau sayang
Engkau berikan mukena dan sajadah
Agar aku dapat menyempurnakan rindu
Yang sedang bergemelut dalam dada
Pada lembah malam yang kelam

Kelak..
Pada malam - malam yang sempurna
Kita dendangkan kalam penyejuk hati
Bersama lewati hingga dini hari
Aku menjadi makmum sepenuh hati

Aku kan menunggumu
Menunggu dikepulangan kita
Ah, pijarmu terangi sukmaku

Jakarta, 12 Juni 2010